Laporan Biologi
PENGAMATAN PLASMOLISIS
Disusun Oleh :
andresta
SMA N 1 Jetis Bantul Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air
merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan, demikian pentingnya
sehingga tidak mungkin ada kehidupan tanpa air. Air merupakan 85 – 95 %
berat tumbuhan herba yang hidup di air. Dalam sel, air diperlukan
sebagai pelarut unsur hara sehingga dapat digunakan untuk mengangkutnya;
selain itu air diperlukan juga sebagai substrat atau reaktan untuk
berbagai reaksi biokimia misalnya proses fotosintesis; dan air dapat
menyebabkan terbentuknya enzim dalam tiga dimensi sehingga dapat
digunakan untuk aktivitas katalisnya. Tanaman yang kekurangan air akan
menjadi layu, dan apabila tidak diberikan air secepatnya akan terjadi
layu permanen yang dapat menyebabkan kematian.
Pertumbuhan
juga bergantung pada pengambilan air, dan banyak hal dalam hubungan air
tumbuhan tergantung pada interaksi sel dengan lingkungan. Tumbuhan
memang merupakan sistem yang dinamis dan sangat rumit dimana fungsi yang
satu berinteraksi dangan fungsi yang lain. Dengan kata lain, tumbuhan
merupakan sistem multidimensi. Setiap aktifitas sistem ini ditentukan
juga oleh sifat air dan bahan yang larut dalam air. Oleh sebab itu,
menyoroti pergerakan air dan yang lain melalui membran ke sel tumbuhan
dan antara tumbuhan dengan lingkungan juga menjadi sangat penting
Dengan
adanya reaksi plasmolisi kita dapat mengetahui pengaruhnya terhadap
tumbuhan khususnya dalam kehidupan sehari – hari. Untuk lebih jelasnya
lagi tentang reaksi plasmolisi, dilakukan sebuah praktikum untuk
mengetahui lebih jauh tentang reaksi plasmolisis.
B. Tujuan
1) Mengamati terjadinya reaksi plasmolisi
2) Mengetahui perbedaan pada reaksi plasmolisis
3) Dapat mengaplikasikan reaksi plasmolisi dalam kehidupan sehari - hari
C. Rumusan Masalah
1) Bagaimana proses terjadinya plasmolisis?
2) Apa perbedaan pada reaksi plasmolisis?
3) Apa peran plasmolisis dalam kehidupan sehari hari?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DASAR TEORI
Hari / Tanggal : 15 Agustus 2009
Jam : 12.09 WIB
Situs : www.wikipedia.org
Plasmolisis
merupakan dampak dari peristiwa osmosis.Jika sel tumbuhan diletakkan di
larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan
air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan
dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak
akan menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai
di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel,
menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membran. Akhirnya
cytorrhysis - runtuhnya seluruh dinding sel - dapat terjadi. Tidak ada
mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara
berlebihan, juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis
dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik. Proses sama
pada sel hewan disebut krenasi. Cairan di dalam sel hewan keluar karena
peristiwa difusi.
Plasmolisis
hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam.
Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel
pada larutan bersalinitas tinggi atau larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea atau sel epidermal bawang yang memiliki pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas
Menurut
Bidwell (1979) molekul air dan zat terlarut yang berada dalam sel
selalu bergerak. Oleh karena itu terjadi perpindahan terus-menerus dari
molekul air, dari satu bagian ke bagian yang lain. Perpindahan
molekul-molekul itu dpat ditinjau dari dua sudut. Pertama dari sudut
sumber dan dari sudut tujuan. Dari sudut sumber dikatakan bahwa terdapat
suatu tekanan yang menyebabkan molekul-molekul menyebar ke seluruh
jaringan. Tekanan ini disebut dengan tekanan difusi. Dari sudut tujuan
dapat dikatakan bahwa ada sesuatu kekurangan (deficit akan
molekul-molekul. Hal ini dibandingkan dengan istilah daerah surplus
molekul dan minus molekul. Ini bararti bahwa di sumber itu ada tekanan
difusi positif dan ditinjau adanya tekanan difusi negatif. Istilah
tekanan difusi negatif dapat ditukar dengan kekurangan tekanan difusi
atau deficit tekanan difusi yang disingkat dengan DTD (Dwijo, 1985)
Difusi adalah gerakan partikel dari tempat dengan potensial kimia lebih
tinggi ke tempat dengan potensial kimia lebih rendah karena energi
kinetiknya sendiri sampai terjadi keseimbangan dinamis (Indradewa,
2009). Senada dengan itu, Agrica (2009) menjelaskan bahwa difusi adalah
peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Contoh yang
sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun
cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang
berdifusi dalam udara.
Prinsip
dasar yang dapat kita pegang mengenai peristiwa difusi ini adalah
difusi terjadi sebagai suatu respon terhadap perbedaan konsentrasi.
Suatu perbedaan terjadi apabila terjadi perubahan konsentrasi dari suatu
keadaan ke keadaan lain. Selain perbedaan konsentrasi, perbedaan dalam
sifat dapat juga menyebabkan difusi. Proses pertukaran gas pada tumbuhan
yang terjadi di daun adalah suatu contoh proses difusi. Dalam proses
ini gas CO2 dari atmosfir masuk ke dalam rongga antar sel pada mesofil
daun yang selanjutnya digunakan untuk proses fotosintesis
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat dibanding dengan proses difusi
Apabila ada dua bejana yang satu berisi air murni dan bejana lain diisi dengan larutan, apabila kedua bejana ini kita hubungkan, lalu diantara kedua bejana diletakkan membran semipermeabel, yaitu membran yang mempu melalukan air (pelarut) dan menghambat lalunya zat-zat terlarut. Pada proses ini air berdifusi ke bejana yang berisi larutan sedangkan larutan terhalang untuk berdifusi ke bejana murni. Proses difusi ini disebut dengan osmosis.
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat dibanding dengan proses difusi
Apabila ada dua bejana yang satu berisi air murni dan bejana lain diisi dengan larutan, apabila kedua bejana ini kita hubungkan, lalu diantara kedua bejana diletakkan membran semipermeabel, yaitu membran yang mempu melalukan air (pelarut) dan menghambat lalunya zat-zat terlarut. Pada proses ini air berdifusi ke bejana yang berisi larutan sedangkan larutan terhalang untuk berdifusi ke bejana murni. Proses difusi ini disebut dengan osmosis.
Osmosis
adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat
menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar
sel (Fetter, 1998).
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri.
Sitoplasma
biasanya bersifat hipertonis (potensial air tinggi), dan cairan di luar
sel bersifat hipotonis (potensial air rendah), karena itulah air bisa
masuk ke dalam sel sehingga antara kedua cairan bersifat isotonus.
Apabila suatu sel diletakkan dalam suatu larutan yang hipertonus
terhadap sitoplasma, maka air di dalam sel akan berdifusi ke luar
sehingga sitoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel, hal ini
disebut plasmolisis. Bila sel itu kemudian dimasukkan ke dalam cairan
yang hipotonus, maka air akan masuk ke dalam sel dan sitoplasma akan
kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis.
Hubungannya
antara potensial air adalah dengan melibatkan peristiwa osmosis karena
osmosis merupakan peristiwa difusi dimana antara 2 tempat tersedianya
difusi dipisahkan oleh membran atau selaput. Maka dapat diartikan bahwa
dinding sel atau membran protoplasma adalah merupakan membran pembatas
antara zat yang berdifusi karena pada umumnya sel tumbuh-tumbuhan tinggi
mempunyai dinding sel maka sebagian besar proses fitokimia dalam
tumbuh-tumbuhan adalah merupakan proses osmosis.
BAB III
METODE PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
Ø Alat :1) Mikroskop
2) Silet
3) kaca penutup
4) kaca objek
5) pisau
6) baskom
7) Gelas ukur
8) Toples
9) Pengaduk
10) Tisu
11) jarum
12) Pipet
Ø Bahan : 1) Larutan gula(5%,30%, dan 40%)
2) air
3) Daun Loudes Colors
4) Buah nanas
B. Cara kerja
Ø Percobaan I :
1) Menyiapkan alat dan bahan(mikroskop, silet, pipet,jarum,tisu, kaca objek dan penutup, daun loudes colors)
2) Mengambil daun loudes color, kemudian menyayat setipis mungkin bagian yang berwarna ungu dengan menggunakan silet
3) Menaruh dikaca objek dan menetesi dengan menggunakan pipet larutan gula 5% menutup dengan kaca penutup
4) mengamati dengan mikroskop
5)gambar hasil pengamatan larutan gula 5%.
6)Setelah selesai, larutan gula 5% diserap dengan meggunakan tisu
7) lakukan pengamatan kembali dengan menggunakan larutan gula 30 % dan air tawar.
8) Setelah selesai melakukan pengamatan, gambar hasil dari pengamatan tersebut.
Ø Percobaan II :
1. menyiapkan alat dan bahan (pisau, baskom,toples,gelas ukur,nanas,larutan gula 40%,air) terlebih dahulu
2. mengkupas buah nanas lalu dicuci dengan menggunakan air yang bersih
3. memotong menjadi beberapa bagian
4. menyiapkan air yang sudah diberi gula dengan perbandingan 40% gula
5. memasukan buah nanas kedalam toples lalu ditutup
6. Kemudian amati perkembangannya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Ø Plasmolisis pada daun Loudes Colors
Setelah
melakukan pengamatan dan berhasil menemukan struktur sel yang ditetesi
dengan larutan gula dengan perbandingan tertentu, kemudian di gambar
sesuai bentuk sel yang diamati, beserta diberi keterangannya.
|
No
|
Kandungan larutan
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1
|
5% larutan gula
| |
Air masuk kedalam sel sementara cairan yang ada dalam sel keluar, ini menyebabkan pengkerutan dibagian tepi sel
|
|
2
|
30% larutan gula
| |
Air dari vakula sitoplasma menkerut dan membrane plasma terlepas dari dinding sel
|
|
3
|
Dengan air tawar ( H2O)
| |
H2O masuk kedalam
sel,kemudian membengkak namun bentuk dapat dipertahankan (turqid)
karena adanya dinding sel, namun warnanya sedikit pudar
|
Ø Manisan
Setelah
melakukan percobaan dengan membuat manisan dengan perbandingan larutan
gula 40 % maka hasil percobaan itu ditulis dengan mengunakan sebuah
table sebagai berikut
|
No
|
Waktu
|
Bau
|
Rasa
|
Jamur
|
Lendir
|
|
1
|
1 hari
|
segar
|
manis
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
2
|
2 hari
|
segar
|
Manis sekali
|
Tidak ada
|
Tidak ada
|
|
3
|
3 hari
|
busuk
|
asam
|
Ada sedikit
|
berlendir
|
|
4
|
4 hari
|
Busuk menyengat
|
Asam, busuk
|
banyak
|
berlendir
|
B. Pembahasan
Ø Plasmolisis pada daun loudes colors
1) Pada larutan gula 5%, bagian sitoplasmanya mengkerut
2) Cairan sitoplasma keluar dan larutan gula masuk
3) Warna ungu masih dominan
4) Pada larutan 30%, bagian sitoplasmanya lebih mengkerut disbanding pada larutan gula 5 %
5) Cairan sitoplasma banyak yang keluar
6) Warna unggu berkurang
7) Setelah ditetesi larutan air tawar, warna unggu kembali dominan.
Ø Plasmolisis pada manisan buah nanas
1) Dari hasil percobaan pada hari pertama dan kedua bau masih segar dan rasa manis
2) Tidak dijumpai adanya jamur dan lender
3) Pada hari ketiga bau agak busk
4) Rasanya asam dan terdapat seikit jamur serta berlendir
5) Pada hari ke empat berbau busuk menyengat
6) Rasanya pun asam busuk dan terdapat banyak jamur serta berlendir
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Ø Plasmolisis pada daun loudes colors
1. Air
merupakan komponen penting bagi tumbuhan karena merupakan 85 – 90 %
penyusun berat total tumbuhan, sebagaimedia reaksi kimia dalam sel,
penguat turgor sel, pelarut zat-zat hara, substrat dan pereaksi
fotosintesis, serta menjadi media katalis berbagai enzim bagi tumbuhan.
2. Pergerakan
air disebabkan oleh adanya selisih konsentrasi atau potensial air dari
solvent dengan solut serta potensial osmotik dari solute itu sendiri.
Pergerakan tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi jika itu
terjadi pada wadah bebas, dan menjadi penyebab osmosis bagi sel tumbuhan
maupun jaringannya.
3. Larutan
yang hipertonis menyebabkan peristiwa plasmolisis dan jika diencerkan
kembali (hipotonis) akan menyebabkan peristiwa deplasmolisis.
4. Zat yang berkonsentrasinya rendah menuju ke zat yang berkosentrasi tinggi melalui membran sel
Ø Plasmolisis pada manisan nanas
1) Semakin banyak larutan gula yang terlarut, makin lama pula bahan menjadi awet
2) Sedangkan semakin edikit larutan gula yang terlarut, makin cepat pembusukan.
3) Pembusukan terjadi dengan ditandai munculnya jamur dan lendir
Daftar Pustaka
Endang Sri Lestari dan Idun Kistinnah, Biologi 2 Makhluk Hidup dan Lingkungannya
Jakarta. BSE
www.bse.com
RSS Feed
Twitter
23.51
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar